Ini kisah nyata..tentang saya..
Dan juga tentang bapak saya.
Bapak saya sepertinya, kemungkinan besar, tidak bercita-cita jadi wartawan. Beliau kuliah di sebuah institut pertanian, dan kegiatan sampingannya adalah bermain sepakbola.
Sekarang, sudah 20 tahun beliau jadi wartawan olahraga. Sepertinya beliau tidak akan pindah dari pos nya, juga enggak akan kembali ke dunia pertanian yang dulu dipelajarinya.
Sedangkan saya, dulu waktu SMP bercita-cita jadi jurnalis. Tapi sampai sekarang pun belum pernah punya kegiatan yang benar-benar mengarah ke sana. Waktu SMP pernah, sih, ikut ekskul jurnalistik-mading, tapi waktu SMA, saya malas buat ikut ekskul majalah di sekolah, gara-gara sudah terlalu sibuk dengan ‘kegiatan’ mengerjakan latihan-latihan soal (biar enggak terdepak dari kelas aksel).
waktu kuliah, saya sempat ikut BSO di fakultas, Sintesa namanya. tapi cuma ikut sampai pelantikannya saja. karena merasa kurang kritis dan tidak sesuai dengan kultur dialektika yang dibangun di dalamnya..akhirnya saya berusaha lebih serius di marching band saja..
di marching band saya bertemu dengan beberapa senior yang aktif menerbitkan buletin..saya lumayan enjoy menjadi stafnya dan sempat menulis beberapa berita. tapi, saat senior ini sudah tidak aktif lagi dan kemudian lulus, proyek itu berhenti dan tidak ada yang melanjutkan. akibatnya, ‘karir’ jurnalistik saya mandheg lagi.
setelah lulus kuliah, saya bersemangat sekali, ingin mengejar cita-cita saya sebagai wartawan. tapi sekaligus saya merasa minder. pengalaman saya nol sama sekali, dibandingkan dengan teman-teman kuliah saya dulu (dan beberapa memang sudah menyandang profesi prestisius ini sekarang). tambahan, bapak saya tidak ikhlas kalau anak perempuannya ini berlelah-lelah seperti dirinya, apalagi bila bekerja di media massa yang skalanya nasional.
Dan sepertinya memang bukan jodoh saya. Beberapa lamaran pekerjaan ke media-media massa tidak ada follow up nya. Sekarang saya sudah diterima sebagai CPNS di sebuah departemen, sepertinya di bagian humas dan protokoler (hehe..saya juga nggak tau pasti).
akhirnya, pupus sudah impian saya untuk menjadi seorang jurnalis, yang bisa keliling Indonesia, keliling dunia..mungkin sebaiknya saya mengestafetkannya kepada adik saya (atau mungkin kepada anak-anak saya kelak)..
Satu hal yang saya dapatkan dari kondisi ini, cita-cita itu untuk dikejar..
ANAK WARTAWAN BATAL JADI WARTAWAN
Advertisement