Aku tuh suka banget nonton film drama. dan juga dengerin lagu melo. dan juga baca novel romantis. Benar-benar khas perempuan. tapi kesemuanya itu dalam bahasa Inggris. terutama, aku sekarang lagi suka nonton film berbahasa inggris tanpa menghiraukan subtitle-nya. kenapa? itu karena aku pengen bisa lebih lancar berbahasa inggris (alasan yang sungguh biasa), karena hasil TOEFL like terakhirku, aku masuk level higher intermediate, satu langkah sebelum fluent (kayaknya), jadi pengen dijadiin fluent sekalian.
Nah, aku merasa sangat bermasalah dalam hal ngomong bahasa inggris. suka belibet lidahnya. untung kemaren sempet ketemu orang asing (walopun dari jerman), lumayan bisa latian ngomong beberapa patah kata sama dia.
Ada satu hal yang aku rasa bikin stres dalam proses belajar listening-ku, yaitu..penyiar2 dari stasiun m*tr* tv. kenapa begitu? soalnya aku merasa mereka enggak jelas banget ngomong bhs inggrisnya. kesannya, mulutnya penuuh banget..setelah aku pikir, sepertinya penyiar2 dari stasiun tv itu memang memiliki style (atau dialek) yang khas..bukaan mulutnya kecil, jadi suaranya kayak berasal dari kerongkongan.
Aku nonton berita-berita bahasa Inggris mereka memang dengan tujuan melancarkan pendengaranku, tapi rasanya enggak senyaman nonton film bhs inggris, atau dengerin mas Jason nyanyi, atau bahkan ngobrol sama bule jerman kemarin. telingaku cuma menangkap rentetan kata2 yang diucapkan dengan cepatnya..
menurutku, fungsi penyiarnya kan jadi bergeser? gimana audiens macam aku bisa menangkap makna dari berita yang disiarkan kalau caranya begitu..
mungkin selanjutnya harus lebih sering survey berita-berita berbahasa inggris di stasiun tv lain buat mencari pembanding nya. saran buat stasiun televisi yang bersangkutan,,image dan prestige memang sangat perlu, tapi…bukankah tujuan jurnalisme nya akan lebih bisa tercapai kalo audiensnya bisa meng-encode pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan makna yang diharapkan?
(cuma catatan seorang yang desperate belajar bahasa inggris dan pernah ngintip buku2 komunikasi)