Sudah 6 bulan aku tinggal di sekitar Ampera Raya, tepatnya di belakang PN Jakarta Selatan, menumpang di kediaman om-tanteku. Ini jalan yang unik menurutku. Ampera Raya terbentang dari ujung jalan Kemang Selatan sampai perempatan Cilandak KKO, jalan yang hanya terdiri dari dua jalur, tapi merupakan rute penting. Dan karena dekat dengan kemang, maka hip nya kemang pun terasa di sini (ada kantor dan kafe milik majalah Rollling Stone yang aku pamerkan pada eko waktu itu).
Sudah 6 bulan aku selalu berdiri di tempat yang sama di pagi hari, di depan bengkel AHASS dekat SPBU, seberang PN, untuk menunggu M 36 atau Kopaja 612 yang akan mengantarku ke tempat kerja.
Pagi itu, 29 September 2010. Aku merasa tidak biasa. Kejadian pagi itu di Ampera, sepertinya terlalu kuingat detailnya. Dua petugas keamanan yang berdiri di depan pagar pengadilan, ibu-ibu memakai kain yang kesulitan turun dari mikrolet, anak SD yang keluar dari gang yang sama denganku dan diantar ibunya pergi ke sekolah.
Dan di siang harinya, aku mendengar kabar mengerikan itu. Ada rusuh di Ampera. Beritanya tentu sudah terdengar di mana-mana. Terjadi bentrok di depan PN saat sidang kasus perkelahian geng di salah satu klab malam di Jakarta. Saat pertama kali mendengar, dikabarkan 2 korban tewas, jalan Ampera ditutup dan kondisinya amat mencekam.
Awalnya, aku tidak menanggapinya dan tidak berpikir apa-apa. Tapi kemudian, terlintas di kepalaku, this is the street where I live..mungkin yang mengalami atau malah terjebak di kejadian itu bisa jadi orang2 yang kulihat pagi harinya.
Miris dan hampir sedih. Tapi ternyata, ketika pulang di malam harinya, Ampera tetap terang benderang seperti biasa. Semua toko dan resto tetap saja buka. Bedanya, hanya karena ada satu kamerawan dari salah satu televisi swasta yang masih ada di muka pengadilan.
Di keesokan hari setelah peristiwa berdarah itu, ketika koran pagi dan berita pagi di televisi mengabarkan kejadian ini dan membuat masyarakat, -mungkin golongan yang tidak terlalu memedulikan update facebook atau twitter-, terhenyak, Ampera sudah kembali seperti biasa,dengan anak-anak sekolah yang menunggu angkutan umum, dengan kemacetannya, dengan pohon-pohon rindangnya yang hijau cerah, dan dengan aku yang seperti hari-hari sebelumnya, tidak waspada terhadap apapun kecuali orang gila yang mungkin mencolek saat dia melintas di jalan sempit itu..
